Sungguh diluar dugaan…
Tibalah sebuah kesempatan saat saya dan teman-teman melakukan caving di Goa Buniayu. Tidak ada satupun dari kami yang pernah melakukan kegiatan ini. Pada saat itu, saya punya ekspektasi bahwa caving adalah wisata ringan yang tidak membutuhkan effort tenaga yang besar. Dimana kami tidak perlu berkotor-kotor, tidak perlu berkeringat, apalagi berendam setengah badan. Ternyata saya salah besar. Namun kesalahan ini menjadi elemen kejutan yang membuat perjalanan kami jadi berkesan.
Menunggu sampai bosan giliran turun ke dalam goa berlangsung sampai setengah jam. Dengan dibantu Pak Ferry dkk, saya memasuki goa ini menggunakan tali dan “dikerek” ke kedalaman sekitar 100 meter sampai menjejakkan kaki di dalam goa. Kemudian kami memulai perjalanan.
2 jam pertama kami masih prima. Sambil membiasakan mata dengan kegelapan… Kami diberi pelajaran singkat tentang asal muasal keberadaan goa ini, binatang-binatang yang hidup di dalamnya dan juga berbagai jenis bentuk stalagmite dan stalagtit yang ada di dalam goa.
Sampai kemudian kami menghadapi rintangan demi rintangan.
Di salah satu rintangan, kami harus menggunakan tali webbing yang ditancapkan ke dinding goa dan melakukan sedikit keahlian merayap.
Kemudian melewati lubang goa yang sempit.
Mengarungi sungai di dalam goa yang tingginya setengah badan.
Melewati genangan lumpur setinggi paha, yang kerap membuat sepatu atau sandal anda tertinggal.
Sepanjang jalan lumpur-lagi.
Menaiki tebing setinggi 3 meter menggunakan tangga tali yang sempit.
Meluncur menggunakan bokong dan punggung di gunungan lumpur.
Tanjakan.
Dan lain sebagainya. Selama 6 jam.
Namun, berbagai rintangan yang kami hadapi tidak kerap membuat kami putus asa. Perjalanan gelap , berat nan traumatik itu justru menjadikan kami tim yang solid. Bagaimana tidak, kami terisolasi dari dunia luar. Hanya teman-teman yang ada pada saat itu yang bisa diandalkan. Kami pun bisa jadi lebih mengenal kepribadian masing-masing. Pemimpin diantara kami, bahkan sudah memetik banyak pesan dari perjalan caving itu. Diantaranya adalah teamwork, komunikasi dan teknik. Dan petuah-petuah ini masih saja terdengar di kantor sampai 5 hari setelah kami bercaving. Saking traumatisnya. hehehe…
Beruntung kami tiba tepat sore hari sebelum magrib. Sehingga saat keluar dari goa dan menghirup kembali udara segar, kami masih bisa melihat indahnya sinar matahari. Sensasi keluar dari goa pada saat itu terasa sama dengan sensasi saat sampai di puncak gunung. Melelahkan, tapi berujung manis.
Semakin manis saat kami dibawa kembali ke meeting point dengan pick up terbuka. Jalanan yang naik turun dan tidak rata, membuat kami harus njrot-njrot an selama perjalanan. Ditutup dengan sup ayam hangat buatan Ibu Aisyah. Well done





3 comments
Comments feed for this article
January 30, 2011 at 11:54 am
sofiyan
Enam jam, wakakakak ampun dj… gak jadi ikut slamat gw..
January 30, 2011 at 1:50 pm
aruna
hahaha… takut jadi kurus ya? heheh…
February 19, 2011 at 1:48 pm
37degree
wah, jalan2 terus
ikutan dong…