Sebenarnya… Ini tugas Kuliah, sudah lama pula. Tapi… sepertinya diposting bagus juga. Lebih tepatnya Re-Posting dari another blog ‘gak mateng’ gw. :p well, selamat menikmati. Serius, BACA DEH!

Kuliah Kapita Selekta yang dibawa oleh Bapak Romi S. Wahono (RSW) pada hari Sabtu yang lalu cukup memberikan kami semua yang hadir di ruangan itu sebuah pencerahan. Percayalah akan kemampuan diri, kembangkan dan tampilkan atau sharing.

Kalau Bapak Romi membagi mahasiswa di sekolah Jepang dalam tiga kasta, yaitu Kasta Brahmana yang sempurna akademisnya, Kasta Satria yang hidup segan mati tak mau, dan terakhir Kasta Sudra yang bodoh, namun ahli dalam bidang lain seperti olahraga dan musik. Saya jadi berpikir… sepertinya saya adalah kelompok kasta Satria yang hidup segan mati tak mau. Kalau ditanya apa tujuan hidup saya, saya pasti tidak tau. Karena saya memang tidak tau, saya tidak yakin. Yang saya tau, saya harus beribadah kepada Yang Kuasa, kuliah yang bener, jangan nakal, lulus tepat waktu, dapet gelar untuk melamar kerja dan membahagiakan orang tua. What an ordinary life!

Jelas saya bukan Kasta Sudra, karena saya sama sekali tidak punya bakat profesional dalam bidang musik ataupun olahraga. Kenapa tidak Kasta Brahmana? Nilai saya memang cukup baik. Saya mungkin jago menjawab soal-soal ujian, tapi kalau disuruh mendevelop sebuah perangkat lunak atau suatu sistem informasi, hmmm… sepertinya saya kurang berpengalaman. Padahal saya pengen baget lho dapet tawaran atau kesempatan.

Nah… bicara dengan mesin saja saya sudah setengah-setengah, menganalisa design ogah-ogahan, berorganisasi hanya seperlunya, nge-Blog-ing pun sekarang sudah gak rajin, seharusnya saya sadar… selama ini yang saya lakukan sedang-sedang saja. Nggak full act. Sayang juga masa muda habis hanya untuk yang sedang-sedang saja.

Seperti yang dikatakan Bapak Romi, tentukan sekarang di bidang apa kita ingin melakukan spesialisasi. Apakah itu designing, programming, jangan sampai… nothing. Lalu kembangkan diri disana. Jadilah ahlinya. “Lebih baik jadi ikan besar di kolam yang kecil.” Begitu bukan?

Kemudian… Kalau ingin menjadi individu yang utuh, pintar untuk diri sendiri saja ternyata tidak cukup. Berbagilah dengan orang lain. Itulah kenapa kemampuan berbicara sangat penting. Kalau selama ini kita dikenal dengan makhluk individualis, mari kita hilangkan mitos mahasiswa STT Telkom yang asosial itu.

Bapak Romi juga menuturkan bahwa manusia-manusia yang mendominasi dunia pada jaman yang akan datang adalah manusia yang memiliki keunggulan defacto dan keunggulan dejure. Kalau bicara tentang profil seseorang yang sukses karena keunggulan defacto, saya jadi teringat kisah Frank Abagnale. Baru-baru ini kisah hidupnya dikemas dalam film berjudul ‘Catch Me If You Can’ yang diperankan oleh aktor favorit saya, tidak lain dan tidak bukan, Leonardo DiCaprio dan sebagai rival sekaligus sahabatnya adalah Tom Hanks.

Frank sendiri adalah seorang penipu kelas kakap pada tahun 70 an. Dengan kecerdasannya dan juga kelihaiannya memikat orang, dia bisa memperoleh banyak uang dengan membuat cek palsu. Dia juga sempat menjadi seorang pilot, dokter bahkan pengacara! Sedangkan Tom Hanks berperan sebagai seorang agen FBI yang dengan susah payah menangkap si penjahat bebuyutan. Kemudian Frank akhirnya tertangkap juga di Eropa dan dibawa kembali ke Amerika. Hadup Frank berubah, dimulai saat keahliannya digunakan oleh FBI untuk melacak penjahat-penjahat pemalsuan cek yang lain. Ia bahkan dipercaya menjadi salah satu agen FBI. Dan dia juga diminta untuk mendesain cek yang bebas pemalsuan yang kini digunakan oleh banyak bank. Bisakah anda lihat, semua kesuksesan bisa diperoleh Frank tanpa harus bersekolah di MIT atau universitas manapun. Ia memang mempunyai keahlian mutlak di bidangnya, diakui oleh masyarakat, yang mungkin tidak bisa ditandingi oleh yang berpendidikan lebih tinggi sekalipun.

Frank hanyalah salah satu contoh orang terkenal yang sukses karena keunggulan defacto. Pencipta google, pembuat Mozilla Firefox dan banyak orang tersohor lainnya tidak sedikit yang mempunyai latar belakang kehidupan yang berliku-liku. Kalau tidak di DO dari kampus, ada juga yang seorang kriminal. Tapi mereka dikenal karena hasil kerja mereka nyata, bahkan bisa membuat perubahan peradaban di masyarakat. Siapa sih yang gak pernah googling jaman sekarang?

Hmmm… Mungkin saya DO saja dari STT Telkom, baru bisa jadi orang sukses seperti mereka ya?😀

Sayangnya, banyak dari kita yang hanya terfokus untuk meraih keunggulan deyure. Padahal gelar bukan jaminan hidup sukses. Kalau punya mobil dan punya rumah mungkin (Insya Allah) sudah di depan mata bagi lulusan STT Telkom. Amin…Tapi hidup sukses yang ini beda artinya. Bagi saya itu berarti bisa menempatkan diri di masyarakat, membuat peradaban baru ke arah yang lebih baik dan jadi seseorang yang berguna bagi negara. Itu baru namanya sukses. What a life!

Walaupun sekarang rasanya masih seperti mimpi di siang bolong, tetaplah bermimpi. Percaya dong kalau sekarang saatnya individu yang membuat perubahan. Sesuai yang dikatakan Thomas L. Friedman dalam bukunya ‘The World Is Flat’ bahwa bukan negara lagi yang berperan seperti pada masa kerajaan Majapahit, bukan juga perusahaan yang berkuasa, tapi diri sendiri lah yang bisa membuat perubahan. Saya… Kamu… Kita sendiri yang bisa membuat perubahan. Ayo berjuang!

REFERENSI

Bapak Romi S. Wahono. Kuliah Kapita Selekta: Trend SDM. Sekolah Tinggi Teknologi Telekomunikasi. Bandung. Sabtu, 22 September 2007.