Pada suatu wikend, gw berkelana bareng 2 temen baru. Mereka volunteer IIWC dari Jerman. Mereka pengen liburan ke Bandung selama beberapa hari, sementara project volunteer mereka di Pekalongan lagi off karena Long Weekend. Mereka sangat sopan, baik, cantik dan baru berusia 20 tahun !-tapi gw merasa tidak lebih dewasa dari mereka berdua.😛 Selain refreshing yang gw dapet, tapi juga inputan positif dari 2 orang yang totally different from you.

Olivia Emmeluth, me and Astrid SeemanOlivia Emmeluth, me and Astrid Seeman


Young and Brave

You know,mereka baru lulus Senior High School, 20 tahun, dengan dana seadanya, berkeliling Asia Tenggara. Menurut gw itu sudah hebat sekali.

Dan mereka sama sekali gak takut untuk survival pergi ke Tangkuban Perahu dan Ciater pake angkot, bus dan transportasi umum lainnya.

Cintai Buah dalam Negeri

Suatu hari kami berjalan di sepanjang pasar Cibodas. Menghabiskan waktu sore sebelum hari menjadi gelap. Di pasar Cibodas kamu bisa menemukan berbagai macam pedagang. Mulai dari pedagang yang menjual peralatan mendaki… sampai pedagang ubi.

Gw pikir, mereka bakal tertarik untuk beli souvenir atau kaos yang penuh dengan tulisan Cibodas, atau Gede, atau Pangrango, but nope… ‘Stand’ pertama yang didatangi oleh Astrid adalah stand Alpukat. Namun karena Alpukatny belum ada yang matang, Astrid tidak jadi membeli. Tapi Astrid dapet satu buah Alpukat matang dari si bapak penjual, gratisss. Dan Alpukat itu langsung dilahap begitu saja sama Astrid sambil terus berjalan. Setelah Alpukat, mereka beli setengah kilo Salak. Beli es duren *lagi. Dan yang terakhir… beli Pisang satu sisir. Beli pisang ini pun setelah melalui tawar menawar pelik antara pedagang dan Astrid. Si penjual bilang harga pisangnya 15.000. Tapi karena Astrid sudah biasa beli pisang di Pekalongan dengan harga 2.000, Astrid bisa membeli pisang itu dengan harga 5.000.

Oia, sedikit flashback mengenai Duren, sehari sebelumnya, gw pernah traktir mereka Es Duren di Cihampelas. The ordinary es duren dengan gelas plastik putih berpolkadot merah yang isinya 2-3 buah duren ,lengkap dengan bijinya, dan ditutup pake 2 scoop ice cream rasa duren diatasnya. Gw gak nyangka, mereka suka banget ! Malah Olivia, karena ga tau atau terlalu suka ama duren, ngegigitin biji durennya. Gw yang liat, kaget, ‘ouch… Oli, you better not to eat that, except its cooked’.

Olivia, Cuma ngangkat bahu, ‘well… but its delicious’, sambil ngebuang biji duren itu. Haaa… gw telah membuat orang lain addicted ama duren.

Bener aja, waktu hari Minggu kami baru tiba di Bandung dari Cibodas, masih di dalem angkot Ciwastra, mereka bilang mo cari Duren dulu di pasar deket kosan gw. Oh Em Gi… Gw sih seneng aja. Wong gw juga suka duren. Tapi sayangnya… pasarnya waktu itu udah sepi, tidak ada penjual duren. Astrid membuat wajah bersedih dan bilang, ‘ah… no duren today.’

Setelah gw usut usut, tentang kegilaan mereka terhadap buah buahan… Mereka menjelaskan bahwa di negara mereka, Jerman, mereka hanya mempunyai sedikit variasi buah. Dan rasa buahnya juga lebih enak buah Indonesia, misalnya Mangga. Jadi mereka memang demen belanja buah di Indonesia.

Anti Buang Sampah Sembarangan

Di tengah-tengah hutan Cibodas, Oli dan Astrid senang bukan main. ‘Its so… tropical ! I feel like im in a movie… like Jurassic Park,’ kata Oli.

Tak terhindarkan, di dalam hutan Cibodas itu, kami juga menjumpai beberapa sampah berserakan di tanah. Trus, mereka curhat mengenai kelakuan sebagian orang Indonesia yang masih saja buang sampah sembarangan. Padahal alam Indonesia luar biasa indah, sayang kalau dikotori, kata mereka.

Gak Pernah Punya 2 HP

Gw, sama seperti orang Indonesia pada umumnya, punya 2 HP dengan 2 nomor aktif. Astrid ama Oli yang melihat hal itu bertanya, ‘Why do every Indonesian people have 2 mobile phones?’

Eng ing eng… Bingung juga gw jawabnya.

Trus gw jelasin klo 1 nomor HP gw untuk komunikasi ama temen dan orang kantor. Sedangkan nomor yang satunya untuk komunikasi ama keluarga. Karena menelpon sesama operator akan lebih murah. Tapi gw tau penjelasan itu tidak dapat menepis kenyataan bahwa orang Indonesia sangat konsumtif.

Generous

Sangat berangkat ke Cibodas, gw bener2 tidak mempersiapkan diri untuk mendaki. Karena yang gw tau, kalo mau naik pun, harus lapor 3 hari sebelumnya. Ternyata hal itu tidak berlaku untuk wisatawan asing. Hari Sabtu kami melapor, hari Minggu kami bisa naik ke Gede, walaupun kami hanya berencana naik sampai air panas.

Astrid dan Oli justru sudah lebih siap dari gw, mereka berdua bawa jaket hujan. Gw nggak. Trus, kami melihat2 di sebuah toko peralatan mendaki untuk mencari sebuah ponco-atau semacamnya, buat gw. Yang paling tidak interest untuk berbelanja saat itu adalah gw. Gw memang tipe orang yang tidak suka pake payung atau ponco, kalau hujannya emang gak gede gede amat. Gw masih antara iya dan tidak tentang membeli ponco. Setelah melihat2, pilihan terakhir jatuh pada ponco seharga 40.000. gw tawar 35.000 gak bisa. Karena gw masih setengah hati dan hujan saat itu Cuma gerimis, gw merasa kebutuhan ponco itu gak terlalu mendesak. Gw memutuskan gak membeli ponco itu sekarang, mungkin nanti malam setelah balik dari Air Terjun Cibereum.

Eh, ngedenger hal tersebut, Astrid langsung ngeluarin duit 40.000 dan membayar ponco itu. Jadi, gw bisa pake ponco itu disaat hujan, walaupun nanti ponco itu juga bakal dibawa pulang Astrid. Dan gw jadi malu… hahaha. Tapi tentu saja, akhirnya gw bayar ponco itu. Karena besoknya ponco itu gw pake, karena besoknya benar2 hujan.

Nice and Kind

Awalnya gw rada takut klo perbedaan budaya diantara kami akan membawa banyak masalah selama 3 hari ke depan. Ternyata hal itu smaa sekali tidak terjadi. Astrid dan Oli sangat ramah dan sopan. Mungkin hal itu juga disebabkan karena mereka sudah 3 bulan di Indonesia, jadi mereka sudah terbiasa dengan adat istiadat orang Indonesia.

Alhasil, mereka dekat dengan ibu kosan gw, anak ibu kosan gw, dan jadi idola diantara cucu cucu ibu kosan gw. =)

***

Overall, gw seneng banget 4 hari itu gw habiskan bersama Astrid dan Oli. Apalagi waktu Astrid bilang, ‘When you go to German, you can stay at my house.’ Huaaa… gw seneng bukan main. Jadi klo gw ke Jerman, udah ada yang nampung gw. Hahaha… Someday I will… =)