Sore itu hari cerah. Setelah beres2 kamar. ngepel dan nguras kamar mandi. Aruna sedang menikmati kamarnya yang bersih sambil membaca novel yang belum diselesaikannya sudah lama. menganggu ketentramannya, Aruna menemukan seekor kecoak berjalan keluar dari kamar mandinya. Dari mana pula kecoak ini datangnya, baru kali ini ada kecoak yang masuk.

de Corode Coro

Kecoak itu mulanya menemukan cahaya dari pipa sempit yang dilewatinya, ia mengikuti cahaya itu. Dan tiba di sebuah ruangan yang dingin dan basah. keluar dari ruangan itu, ia memasuki ruangan lain, lebih hangat… Kecoak itu memeriksa ke sekitar ruangan. Dia tidak mau dipukul lagi dengan sapu atau dipenyet dengan buku. Cukup sudah.

…Oh tidak!! Disana ada manusia. Maka, kecoak itu berjalan pelan2 supaya tidak menarik perhatian. Oh tidak!! Dia melihatku!! Manusia itu berdiri dan mendekati kecoak itu. Hingga jempol raksasa itu ada di depannya, kecoak itu mengumpulkan keberanian, kecoak itu berkata, “p-p-perkenalkan, saya de Coro… s-s-saya cuma mau numpang lewat…” kata kecoak itu.

…Sepertinya manusia itu tidak mengerti, dia tuli atau bodoh pikir de Coro… Karena manusia itu malah melempar buku yang dipegangnya. Hampir saja!! Tapi tidak kena… de coro sudah terlatih dan berpengalaman.

Tidak terima daerah teritorialnya dimasuki hewan tak diinginkan, “Cih, kecoak, Kamu harus keluar dari sini!” Aruna menunjukkan wajah penuh kemarahan, bergejolak dan membara.

Ketakutan, de Coro masuk ke dalam kamar mandi kembali. Berharap raksasa itu tidak mengikutinya lagi. Tapi dia tidak mau masuk ke dalam pipa sempit dan gelap itu lagi.

Ternyata tidak, Aruna tetap mengikutinya. Dimana kecoak itu… Sebenarnya Aruna jijik juga harus berurusan langsung sama kecoak. Tapi gak bisa dibiarin menodai kamarnya yang sudah bersih. Aruna sudah siap perang!

de Coro bersembunyi di balik engsel pintu kamar mandi. Bahaya juga, kalo pintunya bergerak, ditutup. Dia bisa mati gepeng disini. Akhirnya de Coro keluar dari tempat persembunyian, menyusuri pojok2 kamar mandi dan keluar dari arena perang itu dengan selamat. Tapi de coro gagal, sebuah banjir bandang menghanyutkannya. Air itu dingin…

Aruna menyiramnya dengan air, mengarahkan kecoak itu kembali ke lubang. kecoak itu pun terjebak di lubang. Tapi belum masuk. Dia masih berusaha keluar. Kaki2nya yang kurus mengais2 tak berdaya berusaha keluar dari sana. ternyata ini belum cukup. Aruna mengeluarkan senjata selanjutnya… Hmmm… Apa yang bisa dipake… kemudian dia melihat bahan2 pembersih yang di taruh di atas pintu kamar mandinya. Ada molto, attack, sikat baju, so klin pembersih lantai, dan…  Vixal! Yup, vixal pembersih porcelain! Mungkin ampuh, Aruna bisa gatal2 kalu terkena cairan vixal ini.

Vixal, medium weapon to kill a cockroachVixal, medium weapon to kill a cockroach

Raksasa mengerikan itu memegang sebuah botol, membuka tutupnya, termenung sebentar, kemudan menumpahkan cairan di dalamnya ke tubuh de Coro. Apa ini?? kental dan baunya menyengat. Tapi tidak mematikan. De Coro berusaha melarikan diri lagi. Satu2nya jalan melewati diantara kaki2 raksasa itu. Satu, dua, tiga, kaburrr!!!

“Aaaaa!!!” Aruna berteriak karena hampir saja kecoak itu menyentuh kakinya. Dia meloncat ke atas ubin yang lebih tinggi. Dia tidak akan membiarkan kecoak itu kabur dan lebih sulit dibasmi. Aruna mengambil seciduk air.

…de Coro terhempas banjir bandang lagi.

kecoak itu kini mengadah. Tidak bisa membalik badannya. kakinya hanya bergerak2 di udara. Hah!! dia tidak bisa bergerak, pikir Aruna. Kini selanjutnya mengeluarkan senjata selanjutnya. Ternyata vixal tidak mempan. Hmmm… Sekarang pakai… Shock penghilang sumbat saluran!

“Oh Tuhan… Manusia itu makin menjadi. Dan aku kini terjebak tak bisa kemana2”, pikir de coro. Kini manusia itu menggunakan bubuk2putih yang ditabur sekujur tubuh de Coro. Mungkin tidak mempan juga seperti yang tadi.

Tapi ternyata tidak! kecoak itu terlihat berasap atau mengeluarkan asap dan berbuih. Asap itu membuat sesak hidung aruna. Dia harus menutup hidung dengan tangannya. Aruna senang akhirnya berhasil. tapi kecoak itu masih bisa menggerak2an kakinya, walaupun lemah. Harus bagaimana lagi… mungkin inilah saatnya mengeluarkan senjata pamungkas. Sikat kamar mandi! Sederhana, simple, mematikan bila digunakan dengan tepat.

The last weaponThe last weapon

Raksasa itu memegang benda yang sangat dikenal de Coro. Bertangkai panjang dan diujungnya ada sikat yang menyakitkan bila dipukulkan ke tubuhnya. Dia sudah menghadapi jenis senjata ini berkali2. Dia tidak bisa lari, tubuhnya terlalu lemah terkena bubuk aneh itu. Dia pasrah…

“Hiyaaaa!!!!” Aruna mengayunkan sikat itu dan mengenai tepat tubuh kecoak. Buk!

Krak… Tubuh de Coro sebagian ada yang patah, pelindung tubuh atasnya. perutnya berlubang. Dan kaki nya beberapa patah… ah…inilah ajalku… Di tangan raksasa ini… Dia hebat… berhasil mengalahkan de Coro yang melegenda ini.

Aruna menutup mulutnya dengan tangannya. Walaupun dia senang bisa menang. tapi dia tidak pernah melakukan pembunuhan terhadap kecoak sebelumnya. maaf ya… kecoak… Diangkatnya sikat itu. kecoak itu sudah tidak bergerak lgi. Untung, akibat dari pukulan itu tidak terlalu dramatis. Aruna tidak suka kalau harus melihat jembretan2 atau lendir yang keluar dari tubuh kecoak itu. Untung yang ini bersih.

de coro menatap raksasa itu lekat2. Pembunuh dirinya… Tidak disangka muncul rasa simpati. karena raksasa itu melihat iba terhadap dirinya. Yah… manusia itu terpaksa membunuhku, pikir de Coro. Mana ada yang membiarkan mahluk kecil dan kotor ini mengganggu kehidupan mereka. de Coro maklum dan mati dalam damai. Saat banjir bandang yang ketiga menghempas tubuhnya yang lemah dan membawanya ke dalam pipa yang dingin dan sempit itu. Akhirnya…

Fuuhhh… Aruna lega. Dia kembali ke tempat tidurnya, dan melanjutkan membaca buku. Kecoak itu pasti masuk surga, harap Aruna…

September 2nd, 2006

Taken from arunawrite.blog.friendster.com-my previous blog

one of my favorite post