Sudah setahun sejak saya mendaki gunung terakhir kali. Dan kini, saat saya mempunyai trip mendaki Gunung Kerinci, kadang terpikir, “Apa saya mampu?”

Begitu mendarat di Bandara Udara Minangkabau, Padang, kami langsung dibawa selama 8 jam perjalanan menuju Jambi, lebih tepatnya Kersik Tuo. Di Kersik Tuo, kami menginap di sebuah homestay milik penduduk bernama Pak Subandi. Jangan heran kalau ternyata sebagian besar penduduk di Kersik Tuo bersuku Jawa, begitu juga Pak Subandi. Homestay ini terletak tepat di kaki Gunung Kerinci. Jadi terasa sangat menyenangkan saat bangun pagi, sambil menyeruput teh asli Kerinci, keluar rumah, mengirup segar dan dinginnya udara pegunungan, memanjakan mata dengan hamparan kebun teh, dan merasa kecil di hadapan Gunung Kerinci yang sangat mengintimidasi!

Three Monkeys in action =D

Three Monkeys in action =D



Kami memulai pendakian jam 9 pagi. 2 jam pertama selalu terasa paling berat buat saya, karena masih penyesuaian. 2 jam pertama itu juga saya selalu bertanya pada diri sendiri, “Damn, why would I do this?” Mengeluh, berkeluh kesah di dalam hati, tapi kaki tetap melangkah, dan hati tetap senang karena berada di tengah-tengah hutan tropis. Tralalalala… =)

Terasa berbeda dengan gunung lain yang pernah saya daki, di Gunung Kerinci banyak terdengar suara binatang. Bukan. Bukan suara binatang yang biasa. Saya mendengar suara-suara Siamang yang berisik minta ampun. Suara kepakan sayap burung numpang lewat, yang saya simpulkan berarti burungnya berukuran besar. Kami juga ditunjukkan oleh bapak dan mas guide yang menemani kami, Kantung Semar dan bunga Amorphopallus versi kecil. Tidak heran kalau kami banyak bertemu turis asing yang datang ke kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat untuk melakukan pengamatan flora atau fauna. Bukan mendaki gunung, seperti yang sedang kami lakukan.

Dengan pertimbangan angin kencang di shelter 3, maka kami berhenti di shelter 2 untuk mendirikan tenda dan bermalam. Karena perjalanan masih jauh, maka kami harus bangun jauh lebih awal supaya bisa mencapai puncak saat matahari terbit. Kebetulan hanya tim kami yang berada di Gunung Kerinci malam itu. Perasaan sepi dan terkucilkan pun semakin khidmat.

“Summiiiit!!! Summittt!!!” begitulah cara teman saya membangunkan tim di jam 2 pagi. Belum ada perubahan. Angin masih kencang. Tapi tekad tetap bulat. Kami harus sampai puncak Kerinci pagi ini. Baju dobel pun dipakai, jaket, raincoat, sarung tangan, slayer, masker, kupluk, kaos kaki, apa pun untuk menahan angin dan dingin.

Dari shelter 2 menuju shelter 3 memang sangat terjal, tapi kami masih diuntungkan dengan pohon-pohon rendah yang menahan angin. Setelah shelter 3, kami menghadapi jalanan pasir. Jangan lupa angin kencang yang benar-benar menantang kami. Saking kencangnya, badan serasa akan terbang. Untung saya digandeng Mas Midun yang sangat membantu saya mencapai puncak. Selain pasir, kami juga menapaki jalanan berbatu. Kami beberapa kali terjatuh karena salah menapaki batu atau badan goyah karena angin. I told you, we were struggle…

Nice view from height

Nice view from height

“Ayo, 10 menit lagi mbak,”

Saya tau itu maksudnya memberi semangat. But I don’t think I can walk anymore 10 minutes…

“2 menit lagi mbak, bener, saya gak bohong,”

Haaa, seriusss??

“1 menit lagi mbak!”

SEMANGAT!!

Begitulah percakapan di detik-detik terakhir kami mencapai puncak di ketinggian 3.805 mdpl. Jam 6.25 kami berdiri di atap Pegunungan Andalas. Salah satu dari kami ada yang sampai sujud syukur. Saya sendiri dan teman saya saling berpelukan dan menangis karena saking terharunya.

“Puncak Kerinci. Alam adalah sahabat. Mata hanya melihat. Hati yang merasakan dan menikmati.” Begitulah yang tertulis di sebuah prasasti di puncak Gunung Kerinci.

Saya belum pernah merasa sedingin itu. Tangan saya beku. Di puncak pun berkabut. Maka kami tidak berlama-lama di sana. Saat ditengah perjalanan turun menuju shelter 3, kabut sudah mulai hilang dan kami bisa melihat pemandangan dari ketinggian di Gunung Kerinci. Kami duduk sejenak melepas lelah. Kami bisa melihat hutan yang semakin menipis, ladang milik warga, Gunung Tujuh beserta danaunya. Sangat nikmat sambil menyeruput jus orange dan sari kelapa. Cocok dengan lagu Bob Marley yang saya setel dari ipod saya. “I can see clearly now when the rain is gone…”

Saya jadi ingat kenapa saya selalu ingin kembali ke ketinggian. Karena di sana sangat indah…

All Team ITW, RES, ARU, JHE, ABD

Thanks to all Team ITW, RES, ARU, JHE, ABD

Homestay Keluarga Subandi Telephone 081274114273 Price Whole tour package Rp 1.812.000,- (Transport, 4 nights home stay, food, drink, guide, porter)