Image © Joachim Wendler - Fotolia.com

Image © Joachim Wendler – Fotolia.com

PT. XL Axiata Tbk (selanjutnya disebut XL) merupakan salah satu perusahaan operator telekomunikasi seluler di Indonesia. Sejak berdiri pada tahun 1989, perusahaan ini banyak melakukan perubahan, baik struktur organisasi maupun teknologi yang diterapkannya. Hal tersebut dilakukan untuk mencapai visi perusahaan yaitu ‘Menjadi operator seluler no. 1 di Indonesia – memenuhi kebutuhan pelanggan, pemegang saham dan karyawan’.

Tidak kalah ramai dengan perang antar produk obat masuk angin, persaingan ketat juga terus berlangsung antara perusahaan telekomunikasi seluler di Indonesia. Hal ini mendesak perusahaan-perusahaan tersebut untuk terus melakukan inovasi. Dan dalam melakukan suatu inovasi, tentunya memerlukan dukungan teknologi yang memadai.

Salah satu faktor yang dianggap paling krusial pada suatu perusahaan operator telekomunikasi seluler adalah teknologi pada sistem billing nya. Kenapa? Karena sistem inilah yang menjadi ‘mesin penghitung’ biaya atas aktifitas yang dilakukan oleh pelanggan. Baik itu prabayar, pascabayar, voice, SMS maupun data. Lebih dari itu, bahkan sistem ini juga mengatur penyebaran kartu perdana kepada dealer. Sampai dengan sistem yang digunakan oleh Customer Service dalam menangani komplain pelanggan juga ditangani oleh sistem ini. Tidak heran apabila perusahaan-perusahaan tersebut tidak pernah berjalan di tempat apabila menyangkut teknologi billing.

Selain memiliki sistem billing, XL juga menerapkan aplikasi satelit billing yang dikembangkan oleh internal perusahaan. Sesuai dengan sebutannya, ‘satelit’, aplikasi ini berada di sekitar platform utama sistem billing. Aplikasi satelit ini berfungsi untuk membuat produk-produk yang lebih inovatif dan dapat dibuat dalam waktu yang singkat. Karena itu aplikasi dan tim yang mengembangkannya dianggap sebagai bagian yang strategis bagi perusahaan.

Pada awal pengembangannya, aplikasi satelit merupakan modul-modul kecil yang bertebaran dan tidak beraturan. Seiring bertambahnya waktu, aplikasi satelit terus mengalami perubahan dan pengembangan sesuai dengan kebutuhan bisnis. Karena sedari awal tidak memiliki pondasi yang bagus, setiap perubahan semakin memperburuk keadaan sistem ini. Kesulitan juga dialami oleh tim operasional yang tidak memiliki tools yang memudahkan mereka dalam melakukan monitoring dan troubleshoot. Aplikasi satelit pada masa itu juga rentan mengalami gangguan seperti server down, timeout dsb.

Berangkat dari permasalahan tersebut, maka XL memutuskan untuk mengimplementasikan Service Oriented Architecture (SOA) pada satelit billing mereka. Produk SOA yang digunakan adalah yang ditawarkan oleh perusahaan multi nasional yang telah terpercaya mengimplementasikan hal ini, yaitu perusahaan “ABC”. Diharapkan, setelah mengimplementasikan SOA, XL memiliki aplikasi satelit yang lebih reliable dan unggul dalam pengembangan produk baru.

Dalam investasi ini, XL mengeluarkan anggaran belanja yang tidak sedikit. Belanja ini termasuk belanja produk SOA dari ABC itu sendiri, belanja infrastruktur, training karyawan, juga membayar tenaga konsultan dan support.

Pada awal tahun 2011 sistem ini pun benar-benar berjalan pada satelit billing XL. Para engineer aplikasi tidak lagi melakukan coding Java. Hingga saat ini sudah ratusan aplikasi yang dibuat dan berjalan diatas platform SOA. Tim operasional juga menggunakan tools yang berbeda dan lebih terpusat untuk monitoring dan troubleshoot. Tidak ada lagi permasalahan server down dan timeout.

Tidak berhenti sampai disitu, saat ini XL terus merencanakan penerapan teknologi baru pada platform SOA yang sudah berjalan. Karena sudah memiliki platform berbasi servis, maka akan lebih memudahkan pada pengembangannya. Pada tahap ini IT tidak lagi menjadi business enabler, tetapi IT dapat menciptakan bisnis baru.