You are currently browsing the tag archive for the ‘gunung’ tag.

Sudah setahun sejak saya mendaki gunung terakhir kali. Dan kini, saat saya mempunyai trip mendaki Gunung Kerinci, kadang terpikir, “Apa saya mampu?”

Begitu mendarat di Bandara Udara Minangkabau, Padang, kami langsung dibawa selama 8 jam perjalanan menuju Jambi, lebih tepatnya Kersik Tuo. Di Kersik Tuo, kami menginap di sebuah homestay milik penduduk bernama Pak Subandi. Jangan heran kalau ternyata sebagian besar penduduk di Kersik Tuo bersuku Jawa, begitu juga Pak Subandi. Homestay ini terletak tepat di kaki Gunung Kerinci. Jadi terasa sangat menyenangkan saat bangun pagi, sambil menyeruput teh asli Kerinci, keluar rumah, mengirup segar dan dinginnya udara pegunungan, memanjakan mata dengan hamparan kebun teh, dan merasa kecil di hadapan Gunung Kerinci yang sangat mengintimidasi!

Three Monkeys in action =D

Three Monkeys in action =D


Read the rest of this entry »

Beruntunglah saya, punya kesempatan untuk berkunjung ke bagian utara pulau Borneo ini. Tepatnya berlokasi di negara bagian Sabah, Malaysia.
Read the rest of this entry »

Pada suatu wikend, gw berkelana bareng 2 temen baru. Mereka volunteer IIWC dari Jerman. Mereka pengen liburan ke Bandung selama beberapa hari, sementara project volunteer mereka di Pekalongan lagi off karena Long Weekend. Mereka sangat sopan, baik, cantik dan baru berusia 20 tahun !-tapi gw merasa tidak lebih dewasa dari mereka berdua. 😛 Selain refreshing yang gw dapet, tapi juga inputan positif dari 2 orang yang totally different from you.

Olivia Emmeluth, me and Astrid SeemanOlivia Emmeluth, me and Astrid Seeman


Young and Brave

You know,mereka baru lulus Senior High School, 20 tahun, dengan dana seadanya, berkeliling Asia Tenggara. Menurut gw itu sudah hebat sekali.

Dan mereka sama sekali gak takut untuk survival pergi ke Tangkuban Perahu dan Ciater pake angkot, bus dan transportasi umum lainnya.

Cintai Buah dalam Negeri

Suatu hari kami berjalan di sepanjang pasar Cibodas. Menghabiskan waktu sore sebelum hari menjadi gelap. Di pasar Cibodas kamu bisa menemukan berbagai macam pedagang. Mulai dari pedagang yang menjual peralatan mendaki… sampai pedagang ubi.

Gw pikir, mereka bakal tertarik untuk beli souvenir atau kaos yang penuh dengan tulisan Cibodas, atau Gede, atau Pangrango, but nope… ‘Stand’ pertama yang didatangi oleh Astrid adalah stand Alpukat. Namun karena Alpukatny belum ada yang matang, Astrid tidak jadi membeli. Tapi Astrid dapet satu buah Alpukat matang dari si bapak penjual, gratisss. Dan Alpukat itu langsung dilahap begitu saja sama Astrid sambil terus berjalan. Setelah Alpukat, mereka beli setengah kilo Salak. Beli es duren *lagi. Dan yang terakhir… beli Pisang satu sisir. Beli pisang ini pun setelah melalui tawar menawar pelik antara pedagang dan Astrid. Si penjual bilang harga pisangnya 15.000. Tapi karena Astrid sudah biasa beli pisang di Pekalongan dengan harga 2.000, Astrid bisa membeli pisang itu dengan harga 5.000.

Oia, sedikit flashback mengenai Duren, sehari sebelumnya, gw pernah traktir mereka Es Duren di Cihampelas. The ordinary es duren dengan gelas plastik putih berpolkadot merah yang isinya 2-3 buah duren ,lengkap dengan bijinya, dan ditutup pake 2 scoop ice cream rasa duren diatasnya. Gw gak nyangka, mereka suka banget ! Malah Olivia, karena ga tau atau terlalu suka ama duren, ngegigitin biji durennya. Gw yang liat, kaget, ‘ouch… Oli, you better not to eat that, except its cooked’.

Olivia, Cuma ngangkat bahu, ‘well… but its delicious’, sambil ngebuang biji duren itu. Haaa… gw telah membuat orang lain addicted ama duren.

Bener aja, waktu hari Minggu kami baru tiba di Bandung dari Cibodas, masih di dalem angkot Ciwastra, mereka bilang mo cari Duren dulu di pasar deket kosan gw. Oh Em Gi… Gw sih seneng aja. Wong gw juga suka duren. Tapi sayangnya… pasarnya waktu itu udah sepi, tidak ada penjual duren. Astrid membuat wajah bersedih dan bilang, ‘ah… no duren today.’

Setelah gw usut usut, tentang kegilaan mereka terhadap buah buahan… Mereka menjelaskan bahwa di negara mereka, Jerman, mereka hanya mempunyai sedikit variasi buah. Dan rasa buahnya juga lebih enak buah Indonesia, misalnya Mangga. Jadi mereka memang demen belanja buah di Indonesia.

Anti Buang Sampah Sembarangan

Di tengah-tengah hutan Cibodas, Oli dan Astrid senang bukan main. ‘Its so… tropical ! I feel like im in a movie… like Jurassic Park,’ kata Oli.

Tak terhindarkan, di dalam hutan Cibodas itu, kami juga menjumpai beberapa sampah berserakan di tanah. Trus, mereka curhat mengenai kelakuan sebagian orang Indonesia yang masih saja buang sampah sembarangan. Padahal alam Indonesia luar biasa indah, sayang kalau dikotori, kata mereka.

Gak Pernah Punya 2 HP

Gw, sama seperti orang Indonesia pada umumnya, punya 2 HP dengan 2 nomor aktif. Astrid ama Oli yang melihat hal itu bertanya, ‘Why do every Indonesian people have 2 mobile phones?’

Eng ing eng… Bingung juga gw jawabnya.

Trus gw jelasin klo 1 nomor HP gw untuk komunikasi ama temen dan orang kantor. Sedangkan nomor yang satunya untuk komunikasi ama keluarga. Karena menelpon sesama operator akan lebih murah. Tapi gw tau penjelasan itu tidak dapat menepis kenyataan bahwa orang Indonesia sangat konsumtif.

Generous

Sangat berangkat ke Cibodas, gw bener2 tidak mempersiapkan diri untuk mendaki. Karena yang gw tau, kalo mau naik pun, harus lapor 3 hari sebelumnya. Ternyata hal itu tidak berlaku untuk wisatawan asing. Hari Sabtu kami melapor, hari Minggu kami bisa naik ke Gede, walaupun kami hanya berencana naik sampai air panas.

Astrid dan Oli justru sudah lebih siap dari gw, mereka berdua bawa jaket hujan. Gw nggak. Trus, kami melihat2 di sebuah toko peralatan mendaki untuk mencari sebuah ponco-atau semacamnya, buat gw. Yang paling tidak interest untuk berbelanja saat itu adalah gw. Gw memang tipe orang yang tidak suka pake payung atau ponco, kalau hujannya emang gak gede gede amat. Gw masih antara iya dan tidak tentang membeli ponco. Setelah melihat2, pilihan terakhir jatuh pada ponco seharga 40.000. gw tawar 35.000 gak bisa. Karena gw masih setengah hati dan hujan saat itu Cuma gerimis, gw merasa kebutuhan ponco itu gak terlalu mendesak. Gw memutuskan gak membeli ponco itu sekarang, mungkin nanti malam setelah balik dari Air Terjun Cibereum.

Eh, ngedenger hal tersebut, Astrid langsung ngeluarin duit 40.000 dan membayar ponco itu. Jadi, gw bisa pake ponco itu disaat hujan, walaupun nanti ponco itu juga bakal dibawa pulang Astrid. Dan gw jadi malu… hahaha. Tapi tentu saja, akhirnya gw bayar ponco itu. Karena besoknya ponco itu gw pake, karena besoknya benar2 hujan.

Nice and Kind

Awalnya gw rada takut klo perbedaan budaya diantara kami akan membawa banyak masalah selama 3 hari ke depan. Ternyata hal itu smaa sekali tidak terjadi. Astrid dan Oli sangat ramah dan sopan. Mungkin hal itu juga disebabkan karena mereka sudah 3 bulan di Indonesia, jadi mereka sudah terbiasa dengan adat istiadat orang Indonesia.

Alhasil, mereka dekat dengan ibu kosan gw, anak ibu kosan gw, dan jadi idola diantara cucu cucu ibu kosan gw. =)

***

Overall, gw seneng banget 4 hari itu gw habiskan bersama Astrid dan Oli. Apalagi waktu Astrid bilang, ‘When you go to German, you can stay at my house.’ Huaaa… gw seneng bukan main. Jadi klo gw ke Jerman, udah ada yang nampung gw. Hahaha… Someday I will… =)

Ini pengalaman pertama buat gw, dan juga hampir semua tim di ekspedisi ini. Dari 9 orang Cuma kak dadang ama bayu yang pernah muncak. Selain itu ada bonong ama edo. Sisanya??? Jangan harap de… Cewe cewe manis nan lugu, yang biasanya jalan-jalan ke mall, gak pernah lupa pake pelembab n lip balm, dan yang jelas, gak tau apa apa masalah hutan rimba. Huehuehuehehe… tapi jangan salah, ternyata mereka punya bakat terpendam… cewe2 kota yang bermetamorfosis jadi perempuan2 perkasa itu adalah Intan, Fanny, Mae, Vidya dan gw.

BIS BANDUNG-SUKABUMI

Perjalanan menuju Cibodas cukup menyenangkan-buat gw. Soalnya di bis gw kebagian duduk tepat di sebelah sopir menghadap jendela, karena tempat duduk penumpangnya emang udah abis, jadilah gw duduk di gundukan-mesin-itu. Jalanan tanjakan dan belok belok, eh sopirnya malah menggila. Gw kaya maen roller coaster gitu. Supaya gak kepelanting, gw pegangan ke segala. Dashboard nya, kursi sopirnya, setirnya, kepala sopirnya… Belom lagi ada sound effect dari si kenek.Yang terdengar seperti… Wess… Yoo Masok!! Wess… Lanjot! Wess… Hae Hae Terosss… Wess… Masok!!! Ini sebenernya aba2 buat si sopir klo menghadapi tikungan atau kendaraan yang mau disalip. Masing2 punya artinya sendiri2. Dan gw belum bisa memecahkan sandi antara kenek dan sopir itu. 😛

CIBODAS

Di cibodas kita numpang bermalam di sebuah warung. Selese makan, vidya sukses bikin acara tunggalnya “ Teka Teki Pusing Bersamaaaa Vidya!!!” Ada kali 7 tebak2an edan. Dan katanya masih ada 5 lagi. Cukup sudah…

Abis Teka Teki Bersama Vidya, trus kita jalan-jalan sedikit liat pasar tradisionalnya. Ternyata pada kepincut juga belanja. Gw beli gantungan kunci yang ada gambar pendaki dan tulisan cibodasnya. Yang lain ada yang beli sarung tangan, kupluk, kaos, bahkan… gelang. Kata kak dadang sama Bayu, “Baru kali ini naek gunung pake belanja…”

Mencoba tidur selama 2 jam tapi gak merem2 juga karena kedinginan. Akhirnya gw ama Fanny menyerah. Kita memutuskan ngopi2 dulu di warung. Menyusul kak dadang, intan, bonong, bayu. Warung ini ternyata ramenya 24 jam. Mereka adalah para pendaki yang baru mau naek atau baru turun gunung. Topik pembicaraan mereka rata2 tentang nostalgia pengalaman mendaki dulu di berbagai gunung.

Setelah minum kopi susu dan bandrek, badan lumayan anget… tapi selagi mencoba tidur… gw terpaksa mendengarkan cerita2 mistis tentang Gunung Gede. Ada pengunjung yang sepertinya punya pengalaman banyak yang goib2 gitu. Mulai dari harimau jadi2an, cewe nangis di bawah pohon, anak kecil matanya merah, kandang mayat, dsb… dsb. AARRGGHH!!! Kira2 jam 1 gw baru bisa tidur.

WELCOME TO THE JUNGLE

Jalan setapak menuju Air Terjun Cibereum ternyata belum ada apa2nya. Kami baru menghadapi kenyataan setelah persimpangan. Inilah pendakian yang sebenarnya. Gw syok, we are shock. Waktu itu gw rada pesimis bisa apa gak nyampe puncak. Tapi bonong terus kasi semangat. Biar kita maju terus. Naik… naik… terus naik… Walaupun langkah terseok-seok. Napas tersengal-sengal. Tapi yang penting jalan terus. Lama-kelamaan. Pesimis nya hilang. Ganti semangat. Badan memang cape, tapi jadi terbiasa. Dan baru kali itu gw liat badan berasep karena kepanasan. Sama kaya mesin yang kepanasan.

WAY TO TOP

Selama perjalanan, klo ngelewatin rombongan lain-merupakan tradisi-saling menyapa. Walaupun Cuma bilang, “mau ke puncak?” “iya” ada juga yang kasi semangat “semangat semangat. Sebentar lagi kok” ah, menyenangkan sekali…

Gaya dulu cing!

Singat cerita: kami menyusuri aliran air panas (asik banged), makan siang pake sarden di kandang batu, 1 jam menuju kandang badak, melewati tanjakan setan yang seru, dan tanjakan lagi, tanjakan lagi… tanjakan lagi… Rasanya ga berujung padahal kita mo ngejer sunset. Edo yang paling depan terus diteriakin, “Doo… udah nyampe blon????” “Bloooon” Sahut edo berkali kali

Kita nyampe di puncak tepat sunset. Langsung ndiriin tenda, keburu gelap. Sunsetnya jadi gak sempet dinikmatin.

PUNCAK GEDE

Malam hari, gelap, berangin, dingin, selese makan pake mie rebus kita langsung tidur. 5 cewe di satu tenda, dan 4 cowo di satu tenda. Waktu itu, gw gak melihat ada tanda2 pendaki lain yang ada di puncak. Cuma kami. Di tengah ganasnya alam.

Jam 11 malem, gw kebangun, karena ada suara mencurigakan di luar tenda. Peralatan makan seperti dibongkar2. Ternyata Vidya, Fany ama Intan juga bangun. Sama2 takut. Tapi Mae, masih tidur dengan lelapnya. Ada yang nebak anjing, ular, angin. Karena gak berenti2, vidya tereak manggil cowo yang ada di tenda sebelah. Setelah beberapa kali, baru kak dadang yang nyaut. Trus, meriksa keluar tenda. “ga ada apa apa…” dan suaranya berenti… tidur dilanjutkan.

Nice View From The Morning High

Besok paginya, cerah, jalan lumayan jauh menuju “puncak yang sebenarnya” buat ngeliat sunrise. Begini ya kalo di atas gunung… Gak ada suara motor, langitnya bersih, udara bebas polusi. Uufffhhh aaahhhh… puas2in deh bernafas. Puas2in ngeliat puncaknya Pangrango sama Salak. Puas2in ngeliat awan yang mengalir dari satu gunung ke gunung yang lain. Lebih lengkap nikmatnya dengan kopi ranting hangat. Kopi ranting karena diaduk pake ranting. Aaahhhh… rasanya ruaaarrrr biasa.

ALUN ALUN SURYA KENCANA

Setelah puas foto2 di puncak, kita turun menuju surya kencana. Selama 30 menitan. Sampe bawah, eh eeeh… ketemu anak STT (skg IT Telkom). Mereka udah 2 malem di gunung. dan hari ini balik. Gak ke mall, gak ke gunung, ketemu terus sama anak STT. Bosen ga lo?

Alun alun surya kencana ini berupa sabana yang luas… Lo bakal berasa di pelem2 kolosal, kaya Lord Of The Ring atau Narnia. Oia, disini mengalir mata air, jadi bisa ngisi perbekalan air minum.

Taking a nap…

 

Makan siang penghabisan, terus saat nya pulang. Kita harus mengitari alun2 sejauh 2 kilometer. Lebih jauh lagi juga gpp, hehhe…

JALUR PUTRI

Nah ini yang melelahkan buat kaki. Jalur ini Cuma hutan dan turunan. Ga ada air terjun, telaga biru, atau air panas seperti jalur Cibodas. Kita bener2 in de middle of nowhere. Di tengah hutan. supaya gak bosen, kita malah lari2 ditengah hutan sambil mengeluarkan suara2 yang aneh. Kaya pasukan perang mau menyerbu musuh.

Bayu, “Kwoook kwooook kwook”

Edo, “Li li li li li”

Vidya, “aaaauuuuuoooooooooo”

Yang lain, susah ditirukan dalam bentuk teks.

Rasanya bener2 lepas!!! Lepas kandang. :p

Sebenernya gw punya masalah dengan turunan. Buat gw, lebih baik naik daripada turun. Tapi waktu itu, gw sugesti in supaya gw gak ragu2. Loncat sana, loncat sini, pegang pohon sana pegang pohon sini. Dengan berbagai gaya, karena medannya juga aneh2. Kadang2 kita harus meluk2 pohon. Perosotan di pohon. Gw jadi kaya lutung mabok. Hehehhee…

Lutung mabok akhirnya keluar hutan, ternyata gak habis habis pemandangannya. Sekarang ngelewatin kebun dan sawah penduduk yang berundak-undak. Adeeem banget.

Kami pulang pake bus Cianjur-Cibiru. Di dalem bis semua terlelap kelelahan…

Oke, akhirnya kami menyelesaikan ekspedisi dengan selamat, sukses dan tanpa halangan yang berarti. Thanx God. Pulang bawa kenangan hebat dan kaki yang pegel2. :p

Yang lain juga nulis…

Kak dadang: http://dhdhnk.wordpress.com/2008/06/03/puncak-gede-2-juni-2008/

Edo anak bawang: http://edziardo.blogspot.com/2008/06/conquering-mt-gede.html

Bayu: http://bayurimba.wordpress.com/2008/06/04/semangat-baru/

Vidya: http://camyeye.wordpress.com/2008/06/13/gunung-gedewas-it-you/

Bonong: http://neuromantic.multiply.com/journal/item//Puncak_Gede

Twitter Updates

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,503 other followers

TODAY’s QUOTE

“The world is a book and those who do not travel read only one page.” – St. Augustine

Categories

Explore Here

Hi ! Anda adalah pengunjung ke...

  • 117,045