You are currently browsing the tag archive for the ‘motivasi’ tag.

Tahukah kawan…? (ups… kata2nya Andrea Hirata) Tahukah teman…? Nulis judul yang diatas itu butuh keberanian yang sangat BESAARR. Karena, setelah postingan ini dibaca orang, kemungkinan besar bakal ditanyain “Aruna lagi sibuk TA ya?” “Gimana TA nya?” “Sudah sampe mana?” “Sudah BAB berapa?” “Mau sidang kapan?” dan pertanyaan2 lain, yang klo kata temen gw, bikin jantung berdebar2 dan jadi males ngapa2in. hehe.. but, it’s okay, demi blog, ill take the risk. Sekalian, anggep aja pertanyaan itu, sebuah semangat yang menyesakkan.

Bapak gw punya caranya sendiri memberi semangat anaknya. Seminggu yang lalu nelpon…

Bapak: lagi ngapain? Dikerjain skripsinya?

Gw: iya, ini lg ngerjain…

Bapak: udah berapa persen?

Gw: ummhh… 30 persen

Bapak: udah setahun ngerjain TA baru sampe 30%???

Gw: …

(Beberapa hari yang lau nelpon lagi…)

Bapak: Udah berapa persen?

Gw: [tuink… pertanyaan yang sama] 31 persen…?

Bapak: udah seminggu baru nambah 1 persen???

(besoknya nelpon lagi…)

Bapak: udah berapa persen?

Gw: [dengan mantap] 32 persen!!!

Bapak: …

Seminggu ini, hari2 gw cuma… di depan komputer, makan (bikin indomie, telor, beli pun sms Cak Basir ato Alifa), boker (benar2 menghabiskan waktu, sambil coding di otak), mandi (klo lagi pengen), solat, dan tidur (lebih tepatnya ketiduran). Hidup gw hanya sebatas ruangan berukuran 3×4 meter berdinding kuning ini. Hiburan gw cuma nyetel mp3. Lumayan… Arctic Monkeys n The Strokes keep me on my spirit! Manalagi TV internal gw rusak. Kebayang kan gimana boringnya? Minggu ini emang ngejer deadline yang dikasi dosen pembimbing gw sendiri. So… maklum klo blog nya udah semingguan ga diupdate. (Tapi, blogwalking tetep jalan loh, pake HP) 🙂

Tapi tapi tapi… untuk menjaga kesehatan tubuh. Gw dan vidya rajin ajojing tiap sore. kecuali sore itu… ajojing nya absen. Begini kira2 sms2 an antara gw dan vidya:

Vidya: Lari?

Gw: Telat ah. Gw nungguin buka puasa. Udah terlanjur pesen alifa.

Vidya: Lha? Gw nungguin lo sms, he he he,,, yo wis lah…

Gw: ya uda, besok saja ajojingnya teman… gw juga rada lemez2 g je. Coding, laper, keriput, kurang sinar matahari, boring mode ON.

Sebenernya perlu ditambah mata pedes, rambut keriting(memang), kurang gizi, homesick. Dan ternyata vidya keadaannya gak lebih baik dari gw…

Vidya: Gw lg stress akut!! Berdebar2 ga jelas… keringet dingin! Berpikir keras!

Gw: HIDUP PEJUANG TA! MERDEKAAA!!!

Terus… gw liat inbox HP gw, hari itu cuma ada sms dari INDOSAT, 808, 9388 dan thanks god (ada juga yang dari manusia) Vidya. Set dah. Gw bener2 terisolasi dari dunia luar. Apa kabar duniaaa? That day, was only you and me honey… Gw dan TA.

Oooohhhhhh… kapan derita ini akan berakhir?

Untuk teman2 sesama pejuang TA diluar sana. Kamu gak sendirian teman… Seperti yang gw baca di web nya pak Romi SW, artikel ini dan artikel ini

“Nikmati permasalahan yang muncul, tekuni solusi dan eksperimen yang kita rencanakan, dan jreng jreng jreng… Insya Allah tugas akhir kita akan selesai sesuai dengan waktu yang ditetapkan, tanpa nyontek, tanpa membeli dari penjual skripsi dan tanpa kutukan dosa dari yang Diatas :)”

Semangat!

Advertisements

Sebenarnya… Ini tugas Kuliah, sudah lama pula. Tapi… sepertinya diposting bagus juga. Lebih tepatnya Re-Posting dari another blog ‘gak mateng’ gw. :p well, selamat menikmati. Serius, BACA DEH!

Kuliah Kapita Selekta yang dibawa oleh Bapak Romi S. Wahono (RSW) pada hari Sabtu yang lalu cukup memberikan kami semua yang hadir di ruangan itu sebuah pencerahan. Percayalah akan kemampuan diri, kembangkan dan tampilkan atau sharing.

Kalau Bapak Romi membagi mahasiswa di sekolah Jepang dalam tiga kasta, yaitu Kasta Brahmana yang sempurna akademisnya, Kasta Satria yang hidup segan mati tak mau, dan terakhir Kasta Sudra yang bodoh, namun ahli dalam bidang lain seperti olahraga dan musik. Saya jadi berpikir… sepertinya saya adalah kelompok kasta Satria yang hidup segan mati tak mau. Kalau ditanya apa tujuan hidup saya, saya pasti tidak tau. Karena saya memang tidak tau, saya tidak yakin. Yang saya tau, saya harus beribadah kepada Yang Kuasa, kuliah yang bener, jangan nakal, lulus tepat waktu, dapet gelar untuk melamar kerja dan membahagiakan orang tua. What an ordinary life!

Jelas saya bukan Kasta Sudra, karena saya sama sekali tidak punya bakat profesional dalam bidang musik ataupun olahraga. Kenapa tidak Kasta Brahmana? Nilai saya memang cukup baik. Saya mungkin jago menjawab soal-soal ujian, tapi kalau disuruh mendevelop sebuah perangkat lunak atau suatu sistem informasi, hmmm… sepertinya saya kurang berpengalaman. Padahal saya pengen baget lho dapet tawaran atau kesempatan.

Nah… bicara dengan mesin saja saya sudah setengah-setengah, menganalisa design ogah-ogahan, berorganisasi hanya seperlunya, nge-Blog-ing pun sekarang sudah gak rajin, seharusnya saya sadar… selama ini yang saya lakukan sedang-sedang saja. Nggak full act. Sayang juga masa muda habis hanya untuk yang sedang-sedang saja.

Seperti yang dikatakan Bapak Romi, tentukan sekarang di bidang apa kita ingin melakukan spesialisasi. Apakah itu designing, programming, jangan sampai… nothing. Lalu kembangkan diri disana. Jadilah ahlinya. “Lebih baik jadi ikan besar di kolam yang kecil.” Begitu bukan?

Kemudian… Kalau ingin menjadi individu yang utuh, pintar untuk diri sendiri saja ternyata tidak cukup. Berbagilah dengan orang lain. Itulah kenapa kemampuan berbicara sangat penting. Kalau selama ini kita dikenal dengan makhluk individualis, mari kita hilangkan mitos mahasiswa STT Telkom yang asosial itu.

Bapak Romi juga menuturkan bahwa manusia-manusia yang mendominasi dunia pada jaman yang akan datang adalah manusia yang memiliki keunggulan defacto dan keunggulan dejure. Kalau bicara tentang profil seseorang yang sukses karena keunggulan defacto, saya jadi teringat kisah Frank Abagnale. Baru-baru ini kisah hidupnya dikemas dalam film berjudul ‘Catch Me If You Can’ yang diperankan oleh aktor favorit saya, tidak lain dan tidak bukan, Leonardo DiCaprio dan sebagai rival sekaligus sahabatnya adalah Tom Hanks.

Frank sendiri adalah seorang penipu kelas kakap pada tahun 70 an. Dengan kecerdasannya dan juga kelihaiannya memikat orang, dia bisa memperoleh banyak uang dengan membuat cek palsu. Dia juga sempat menjadi seorang pilot, dokter bahkan pengacara! Sedangkan Tom Hanks berperan sebagai seorang agen FBI yang dengan susah payah menangkap si penjahat bebuyutan. Kemudian Frank akhirnya tertangkap juga di Eropa dan dibawa kembali ke Amerika. Hadup Frank berubah, dimulai saat keahliannya digunakan oleh FBI untuk melacak penjahat-penjahat pemalsuan cek yang lain. Ia bahkan dipercaya menjadi salah satu agen FBI. Dan dia juga diminta untuk mendesain cek yang bebas pemalsuan yang kini digunakan oleh banyak bank. Bisakah anda lihat, semua kesuksesan bisa diperoleh Frank tanpa harus bersekolah di MIT atau universitas manapun. Ia memang mempunyai keahlian mutlak di bidangnya, diakui oleh masyarakat, yang mungkin tidak bisa ditandingi oleh yang berpendidikan lebih tinggi sekalipun.

Frank hanyalah salah satu contoh orang terkenal yang sukses karena keunggulan defacto. Pencipta google, pembuat Mozilla Firefox dan banyak orang tersohor lainnya tidak sedikit yang mempunyai latar belakang kehidupan yang berliku-liku. Kalau tidak di DO dari kampus, ada juga yang seorang kriminal. Tapi mereka dikenal karena hasil kerja mereka nyata, bahkan bisa membuat perubahan peradaban di masyarakat. Siapa sih yang gak pernah googling jaman sekarang?

Hmmm… Mungkin saya DO saja dari STT Telkom, baru bisa jadi orang sukses seperti mereka ya? 😀

Sayangnya, banyak dari kita yang hanya terfokus untuk meraih keunggulan deyure. Padahal gelar bukan jaminan hidup sukses. Kalau punya mobil dan punya rumah mungkin (Insya Allah) sudah di depan mata bagi lulusan STT Telkom. Amin…Tapi hidup sukses yang ini beda artinya. Bagi saya itu berarti bisa menempatkan diri di masyarakat, membuat peradaban baru ke arah yang lebih baik dan jadi seseorang yang berguna bagi negara. Itu baru namanya sukses. What a life!

Walaupun sekarang rasanya masih seperti mimpi di siang bolong, tetaplah bermimpi. Percaya dong kalau sekarang saatnya individu yang membuat perubahan. Sesuai yang dikatakan Thomas L. Friedman dalam bukunya ‘The World Is Flat’ bahwa bukan negara lagi yang berperan seperti pada masa kerajaan Majapahit, bukan juga perusahaan yang berkuasa, tapi diri sendiri lah yang bisa membuat perubahan. Saya… Kamu… Kita sendiri yang bisa membuat perubahan. Ayo berjuang!

REFERENSI

Bapak Romi S. Wahono. Kuliah Kapita Selekta: Trend SDM. Sekolah Tinggi Teknologi Telekomunikasi. Bandung. Sabtu, 22 September 2007.

Berawal dari baca blognya Mae, dan blognya Fanny gw terinspirasi untuk melakukan gerakan ini: Sekotak Susu untuk Anak Jalanan. [sok sosial banget ya gw…] :p At least hal ini bisa dimulai dari diri gw sendiri.

Yup, yang dimaksud dari gerakan “Sekotak Susu untuk Anak Jalanan” –btw, nama gerakannya masih belum fix, ini karangan gw aja-adalah gak ngasih duit buat mereka yang meminta2 di perempatan jalan, atau dimana pun itu. Terutama mereka yang masih dalam masa anak2-yang harusnya sedang belajar di sekolah. Sebagai penggantinya, berikanlah sekotak susu. Atau, kalo gak punya, bisa diganti yang lain, misalnya biskuit dan buah. Bukan duit, yang ujung-ujungnya jatuh ke tangan preman yang mengkreasikan anak-anak kecil tersebut. Bukan duit, yang nantinya buat beli minuman keras. Bukan duit, yang nanti buat beli rokok. Dengan uang kalian, mereka akan tetap di perempatan jalan, meminta-minta.

Dari yang gw baca, sebenernya mereka punya keinginan untuk bersekolah, bahkan mereka lebih matang dari kita-yang hidup serba ada dengan orang tua-karena mereka tau susahnya mencari uang, kejamnya kehidupan. Mereka lebih percaya diri. Yang masih punya semangat besar, bahkan berusaha mencari sekolah gratis, dan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mereka bekerja serabutan seperti membersihkan mesjid, mencari barang rongsokan dan sebagainya. Demi mengejar cita-cita menjadi polisi atau insinyur.

So, that day, sebelum gw mo belanja bulanan ke Griya, gw ambil sekotak susu dari kulkas. Kebetulan sudah ada.

Bener aja, waktu ngantri di tukang Cimol, ada anak kecil umur 8 tahun an, menyodorkan gelas Aqua yang kosong ke gw. Bukannya ngasi duit tapi gw kasi Sekotak Susu. gw kira anak itu bakalan bingung. Tapi malah senyum. “Nuhun teh.” Kata anak itu.

Di dalem angkot balik dari Griya, eh, ada yang minta-minta lagi. Yang satu ini lebih belia, sekitar 6 tahun. Anak kurus botak berbaju kuning ini membawa kayu yang dipaku dengan tutup botol, yang ditepok2an sambil bernyayi lirih. Gak inget deh nyanyi apa. Lebih mirip nggumam. Karena gak ada susu lagi. Gw bongkar belanjaan gw. Apa kira2 yang bisa dikasih… hmmm… akhirnya gw robek plastik jeruk gw. Ambil satu buah. Trus kasih deh ke anak itu. Aha! Mission accomplished!

Anak Jalanan dapet Kata Kata MotivasiAnak Jalanan Dapet Kata Kata Motivasi


Besok besok, gw pikir, gw bakal nyelipin kertas yang tulisannya “Sekolah yang Rajin ya dek” atau selipin pengetahuan2 umum yang menarik, yang jelas semoga bisa mengingatkan mereka kembali akan pentingnya pendidikan buat melanjutkan hidup.

Waktu itu, mae, gw, fany, vidya sempet ngumpul n ngobrol tentang kelangsungan gerakan ini. Sebagai langkah awal, kita mo bikin nama, visi n misi. Trus… ngumpulin masa lewat dunia maya. Klo memungkinkan, kita mau bikin sosialisasinya langsung di jalan. Narik sponsor dan sebagainya. Maklum, we are a twenty something girl. Masih menyimpan semangat yang meluap2. Hueheuheue…

Street Children

Pengamen Kecil

Whoever, wherever, whenever you read this article guys… and think that this might be good for those street childrens, for our next generation, for this country. Please do this simple thing. And yet, tell this to your friend. Karena efeknya juga baru terasa kalo kita sama-sama melakukan ini. Sebelum pergi keluar rumah, ingat, bawalah sekotak susu dalam tas kamu. gak terlalu berat kan?

Even the smallest person in the world can make a change (Arwen, Lord Of The Ring)

Twitter Updates

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,503 other followers

TODAY’s QUOTE

“The world is a book and those who do not travel read only one page.” – St. Augustine

Categories

Explore Here

Hi ! Anda adalah pengunjung ke...

  • 117,792